oleh: admin pada: 31/10/2025 09:23 seodenai

Suara dari Perut Bumi

Angin berhembus lembut di pagi hari, membawa aroma tanah yang basah. Di sebuah desa kecil, seorang anak bernama Raka sedang menanam pohon bersama neneknya. Tangan kecilnya kotor oleh lumpur, tapi senyumnya bersinar.

“Kenapa kita harus nanam pohon, Nek?” tanyanya polos.

Nenek tersenyum, menatap ke arah ladang yang mulai gersang.
“Karena Bumi sudah mulai kehausan, Nak. Kalau kita gak bantu kasih minum lewat pohon-pohon ini, dia bisa marah.”

“Marah?” Raka mengerutkan dahi. “Bumi bisa marah?”

Nenek menatap langit yang mulai panas meski baru pukul delapan. “Bisa. Kadang dia menangis lewat banjir, kadang batuk lewat asap, dan kadang berteriak lewat badai.”

Raka terdiam. Ia menatap bibit pohon kecil di tangannya. Dalam imajinasinya, ia bisa mendengar suara pelan dari dalam tanah.
“Terima kasih, sudah mau menanamku,” bisik suara itu lembut — seolah berasal dari Bumi sendiri.

Sejak hari itu, Raka jadi anak yang berbeda. Ia menegur teman yang membuang sampah sembarangan, mematikan lampu kalau tidak dipakai, dan selalu menyiram pohon di depan rumahnya setiap sore.

Tahun demi tahun berlalu. Desa yang dulu gersang, kini kembali hijau. Burung-burung datang lagi. Sungai yang dulu kering, mulai mengalir bening.

Dan setiap kali Raka berdiri di tepi sungai itu, ia merasa Bumi berbisik pelan di telinganya.

“Terima kasih sudah menjagaku.”